Pages

Jumat, 17 Mei 2013

Prof. KH. Sukron Ma'mun

Pondok Pesantren Daarul Rahman : Memimpin Masyarakat dan Menjaga Ilmu Islam Siapa yang tidak tahu kawasan Segitiga Emas Jakarta, sudah hampir pasti mata kita akan langsung tertuju kesebuah wilayah bisnis besar dengan luas area mencapai 1.350 hektare, dan dengan nilai pasar hampir Rp 201,7 triliun. Di tengah geliat roda bisnis kaum elit Jakarta yang mayoritas sepi dari aktivitas keagamaan, ternyata menyimpan keelokan yang cukup mendalam, sekitar 500 meter dari STC Senayan tepatnya di Jl. Senopati Dalam II No. 35 A Kebayoran baru Jakarta Selatan. Berdiri tegak sebuah pusat studi dan dakwah Islam, yaitu Pondok Pesantren Daarul Rahman. Geliat dakwah melalui pusat studi dan dakwah Islam dalam bentuk Pondok Pesantren (Ponpes) rasanya menjadi kesejukan tersendiri di tengah hiruk pikuk masyarakat bisnis di kota Jakarta ini. Ponpes Daarul Rahman yang sudah berdiri sejak 1975 sebenarnya sempat menjadi saksi ketika wilayah bisnis Segitiga Emas terjerembab krisis ekonomi 1998. Namun terpaan tersebut ternyata tidak sedikitpun membuat Ponpes Daarul Rahman bergeming. Justru Ponpes Daarul Rahman menjadi alternatif pendidikan bagi masyarakat di sekitar. Perkembangan Ponpes Daarul Rahman tidak lepas dari sejarahnya yang cukup panjang. Tanah di Jl. Senopati II nomor 35 B itu semula adalah milik H. Abdurrahman Naidih, beliau adalah orang betawi asli yang Ahli ibadah, cinta ulama dan habib. Lalu pada tahun 1971 di waqafkan untuk pendirian cikal bakal pesantren Daarul Rahman. Ponpes Daarul Rahman sendiri berdiri pada 11 Januari 1975 didirikan oleh seorang tokoh besar KH Syukron Ma’mun, bersama kawan-kawannya; KH. Untung Ghozali BA, KH. Mansyuri Baidlowi, MA. Ust. Nuharzim BA, KH. Kadir Rahaman, KH Abdurahman Naidi dan H. Muhammad Noor Mughi. Gagasan mendirikan Ponpes Daarul Rahman ini muncul karena mulai ada pendangkalan agama islam di di tengah-tengah umat. Banyak sekolah-sekolah berlebel agama Islam namun pelajaran agamanya sangat minim, justru lebih di dominasi oleh pelajaran-pelajaran umum. “Melihat pendangkalan ilmu Islam di di tengah-tengah umat maka kita mengambil inisiatif untuk mendirikan Ponpes Daarul Rahman dalam rangka mempertahankan ilmu-ilmu Islam yang benar”, ujar KH Syukron Ma’mun kepada Suara Islam. Ponpes Daarul Rahman didirikan dengan perpaduan dua sistem ponpes yang ada di Indonesia. menggabungkan model model pesantren Salafiyah dan pesantren Gontor . Pertama ponpes salafiah yang konsentrasi mempelajari kitab-kitab kuning dari mazhab Imam Syafi’e dikombinasikan dengan ponpes Gontor Ponogro, yang mempunyai sistem berdisplin, berorganisasi, termasuk sistem pembelajaran bahasa Arab dan bahasa Inggris. Menurut KH Syukron Ma’mun pembelajaran bahasa Arab penting karena sumber Islam Al qur’an dan Hadits berasal dari bahasa Arab, “jadi mustahil orang akan mengerti Islam jika dia tidak mengerti bahasa arab, kalaupun mengerti dari terjemahan ini kurang murni”. Berbeda dengan bahasa Inggris yang hanya sebagai penunjang bahasa pergaulan. Kurikulum yang dibangun dan dikembangkan oleh Ponpes Daarul Rahman tidak mengikat dengan kurikulum dari luar. Kita ciptakan kurikulum sendiri, tujuannya untuk menciptakan generasi Islam di masa yang akan datang agar mereka memehami agama dan ilmu Islam yang benar, juga dilengkapi dengan pengetahuan umum. Pelajaran umum di berikan untuk menunjang ilmu pengetahuan ulama, maksudnya agar nanti bisa terjun ditengah-tengah masyarakat. Ijazah yang di keluarkan oleh pesantren ini diakui oleh pemerintah melalui menteri pendidikan nasional, Malik Fajar, mengeluarkan SK bahwa Ponpes Daarul Rahman tidak mengikuti kurikulum pemerintah, tidak usah ikut ebta/ebtanas/UAN. Cukup menjalankan kurikulum yang ada di pondok, tapi ijazahnya di samakan sebagai ijazah negeri. Ijazah Ponpes Daarul Rahman diakui dan diterima di Universitas Islam Madinah, Universitas Islam Ummul Quro di Mekah, Universitas Islammabad Pakistan, Universitas Antara Bangsa Kuala Lumpur Malaysia, Universitas darul ahqaf Yaman. Tujuan pokok pendidikan Ponpes Daarul Rahman juga untuk membina dan memimpin masyarakat agar menjaga ilmu-ilmu Islam yang benar. Karena akhir-akhir ini banyak aliran-aliran sesat. Banyak fenomena aneh yang sekarang muncul di masyarakat kita. Mereka belajar agama dari orang-orang non-muslim yang berasal dari barat (orientalis), dan terkadang mereka lebih percaya dengan orang non-muslim dari pada tokoh-tokoh Islam sendiri. Padahal orang orientalis barat meraka mempelajari islam bukan untuk mengembangkan Islam, akan tetapi mempelajari islam tujuannya mencari celah kelemahan Islam untuk mengahantam dan untuk menghancurkan islam. Justru keberadaan ponpes ini adalah untuk mempertahankan ilmu Islam yg benar. Ponpes ini mempelajari Islam dari sumber Islam dan ulama-ulama Islam seperti Imam Syafi’e, imam Abu Hanifah, imam Malik, imam Ahmad ibn Hambal adalah orang-orang yang kompeten dalam memahami Islam dari pada orang barat orientalis, mereka adalah ulama yang hafal Al Qur’an, memiliki akhlaq yang baik, dan jelas meraka adalah orang yg takut dengan neraka. Orang barat orientalis adalah orang yang berani dengan neraka maka bisa menafsirkan semaunya dan yang lebih menyakitkan umat Islam adalah penafsiran orang-orang orientalis yang melenceng, akbitanya menimbulkan kebencian dunia Islam terhadap barat. Pimpinan Ponpes Daarul Rahman ini juga menjelaskan “Sebenarnya kita tidak anti barat dalam hal teknologi, kami anti barat karena banyak orang orientalis barat mempelajari Islam hanya untuk merusak Islam” Oleh karena itu umat Islam harus dibentengi. “Pendapat-pendapat yangg datang dari barat hampir 90 persen sesat ,saya bisa buktikan kesesatannya”, tegas KH Syukron Ma’mun. Disinlah kita harus menjaga kemurnian ilmu Islam Ponpes Daarul Rahman selalu berkomitmen berpegangan dengan Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah berhaluan salah satu mazhab yang empat kebetulan ponpes ini mermazhab Syafi’e. alt KH Syukron Ma’mun (Pimpinan Ponpes Daarul Rahman) Tokoh Islam Pembaharu Pertemuan pertama dengan sosok ulama besar yang satu ini rasanya tidak bisa diungkapkan hanya dengan sekedar goresan tinta, lebih dari itu Suara Islam menemukan lautan ilmu yang cukup dalam. Ketinggian ilmu ditambah lagi dengan pengetahuan Islam kontemporer membuat beliau semakin khas dalam mengungkapkan pemikiran Islam. Jika selama ini Kiayai atau ulama menjadi sosok yang sangat tradisonalis ternyata KH Syukron Ma’mun merupakan sosok yang cukup lengkap sangat menjaga kesakralan ilmu Islam namun tidak menutup mata dengan tantangan moderenitas. KH. Syukron Ma’mun pendiri Ponpes Daarul Rahman adalah seorang lulusan sekolah guru di Madura Pada awalnya beliau menimba ilmu selama dua tahun di Pesantren Salafiyah, Pasuruan Jawa Timur kemudian ia melanjutkan pendidikan dan mengabdi di Pesantren Gontor, Ponorogo selama sembilan tahun sambil kuliah di Insitut Darusalam, di kota yang sama. Hijrahnya dari Gontor ke Jakarta berkat ajakan KH. Idham Khalid, menteri agama dan juga Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama di zaman Presiden Sukarno. Tinggal satu rumah dengan Kyai Idham, kyai Syukron berkesempatan belajar politik dan organisasi darinya. Menurut kiyai Syukron, Islam sekarang lemah sehingga perlua ada pembaharuan versi Islam, pembaharuan Agama menurut versi Islam ada tiga : Pertama, menghindupan kembali ilmu agama, kedua membangkitkan semangat keagamaan, ketiga mengembalikan ajaran agama kepada kebenarannya (al quran dan hadits) dari pada aliran sempalan/sesat yang ada saat ini. from: http://www.suara-islam.com/news/berita/silaturrahim/269-pondok-pesantren-daarul-rahman--memimpin-masyarakat-dan-menjaga-ilmu-islam Ponpes Daarul Rahman, Oase Spiritual di Jantung Jakarta Posted on Agustus 2, 2010 by Hanif e-Magazine PERNAHKAH Anda membayangkan pondok pesantren yang berdiri di tengah kawasan bisnis, dikelilingi gedung-gedung pencakar langit kota metropolitan Jakarta? Pondok pesantren (Ponpes) itu tak lain, Daarul Rahman, pimpinan KH. Syukron Makmun. Posisinya yang berada di jantung kota Jakarta, tepatnya di pusat bisnis Sudirman, Jl. Senopati Dalam II No. 35 A Kebayoran Baru Jakarta Selatan, memang terbilang unik. Kontras dengan gedung-gedung lainnya yang ada di kawasan itu, Daarul Rahman menyiratkan eksistensi pesantren di tengah kota. Di tengah pusaran kehidupan bisnis, hiburan, dan pemerintahan di Jakarta, ternyata masih ada ruang-ruang spiritual yang tersedia untuk ‘kesejukan’ masyarakat kota. Tak berlebihan jika Ponpes ini disebut “Oase Spiritual di Jantung Jakarta”. Dalam bahasa lain, Daarul Rahman melengkapi taman-taman kota dan ruang terbuka hijau yang belakangan digalakkan Pemprov DKI Jakarta. Jika taman memberi kesejukan lahir, maka Daarul Rahman mengalirkan kesejukan batin spiritual bagi warga kota. Ia juga menjadi cermin bagi santri bahwa kehidupan nyata di balik dinding pesantren kian menantang. Ponpes Daarul Rahman didirikan pada 11 Januari 1975 oleh KH. Syukron Makmunbersama kawan-kawannya; KH. Untung Ghozali BA, KH. Mansyuri Baidlowi MA, Ust. Nuharzim BA, KH. Kadir Rahaman, KH Abdurahman Naidi, dan H. Muhammad Noor Mughi. Pesantren ini menempati lahan wakaf dari H. Abdurahman Naidi. Kawasan Senopati pada tahun 1970-an masih berbentuk kampung. Tapi pesatnya perkembangan Jakarta pada tahun 1980-an dengan cepat mengubah kawasan ini dari kampung menjadi segitiga emas bisnis Jakarta. Idealisme Kiyai Syukron untuk mendirikan pesantren Daarul Rahman yaitu ingin menggabungkan antara model klasikal ala pesantren Gontor dan model Salafiyah. “Kami ingin membentuk kader ulama yang berwawasan intelektual” ujar Kiyai Syukron. Cita-cita ini tak lepas dari latar belakang pendidikannya. Kiyai yang berasal dari Madura, ini pada awalnya menempuh pendidikan sekolah guru di Madura. Tapi, anak kedua dari 14 bersaudara ini tidak lantas menjadi guru, melainkan memilih memperdalam ilmu agama Islam. Ia menempuh pendidikan di pesantren tradisional (salafiyah) dan pesantren modern. Pendidikan salaf ia timba selama dua tahun di Pesantren Salafiyah, Pasuruan Jawa Timur. Kemudian, selama sembilan tahun, ia melanjutkan pendidikan dan mengabdi di Pesantren Gontor, Ponorogo. Di Gontor pula ia mencicipi bangku kuliah, tepatnya di Insitut Darusalam. Dari pesantren salaf ia mendapatkan ilmu agama melalui kitab kuning, sementara di Gontor ia memperoleh kemahiran bahasa Arab dan Inggris dan berorganisasi. Latar belakang salaf dan modern itulah yang coba dikombinasikan dalam wujud Pesantren Daarul Rahman. Dengan begitu santri-santri yang belajar di Daarul Rahman memiliki kemampuan membaca kitab kuning, memperoleh kemahiran berbahasa Arab dan Inggris, serta cara-cara berorganisasi. Seiring perkembangan zaman, mereka juga dibekali dengan kemampuan ilmu-ilmu umum. Pesantren Daarul Rahman memang memiliki kurikulum tersendiri yang khas. Komposisi mata pelajaran adalah 75 persen ilmu agama dan 25 persen ilmu pengetahuan umum. Sejak awal, pesantren ini tidak menggunakan kurikulum kurikulum Nasional. Akibatnya, pada masa Orde Baru ijazah yang dikeluarkan Daarul Rahman tidak diakui pemerintah. Ketika Reformasi bergulir, Mendiknas Malik Fajar memberikan perhatian lebih pada pesantren. Ia mengeluarkan SK yang memperbolehkan Daarul Rahman tidak mengikuti kurikulum pemerintah. Dengan menjalankan kurikulum sendiri, tanpa mengikuti UAN ijazah lulusan Daarul Rahman disamakan sebagai ijazah negeri. Kegiatan sehari-hari santri di pesantren ini sangat padat. Hal ini membiasakan diri mereka disiplin baik dalam belajar maupun beribadah. Penerapan sistem klasikal dimulai sejak pukul 06.30 hingga menjelang shalat Ashar. Dimulai dengan percakapan bahasa Arab dan Inggris di halaman sekolah dari pukul 06.30 sampai 07.10. Pada pukul 07.20 hingga 12.40 santri mengikuti pelajaran formal di dalam kelas. Lalu pada siang harinya sampai pukul 15.00 santri kelas I dan II Tsanawiyah mengikuti kursus bahasa Inggris. Sistim salafi diberlakukan pada sore hingga ba’da subuh. Pada pukul 16.00 hingga pukul 17.30 santri kelas II Tsanawiyah sampai kelas III Aliyah belajar kitab kuning di kelas. Hanya saja proses belajar mengajar ini tidak bandongan atau sorogan seperti pesantren salaf pada umumnya. Selepas shalat maghrib sampai isya santri Tsanawiyah membaca Al-Qur’an di bawah bimbingan para ustadz. Tapi bukan berarti santri dari kelas lain istirahat, karena mereka belajar kitab kuning lagi. Pukul 20.00 santri kembali masuk kelas hingga pukul 22.30. Baru setelah itu santri bisa istirahat, tidur sampai datang waktu subuh. Kemudian ba’da subuh kelas I belajar kitab kuning di kelasnya masing-masing. Meski berada di tengah kota, dengan sistem pendidikan klasikal dan salaf yang padat tersebut santri tidak memiliki kebebasan atau peluang untuk bermain-main di Jakarta. Dengan demikian, tidak ada kekhawatiran akan kontaminasi budaya permisif masyarakat kota. Sebab, selama berada di pesantren, santri difokuskan untuk menuntut ilmu. Di samping itu, peraturan yang ditegakkan di pesantren juga terbilang ketat. Kiyai Syukron yakin kombinasi antara salaf dan modern akan membentuk santri yang cerdas dan tidak ketinggalan zaman. Sebab, di Daarul Rahman, santri juga belajar matematika, fisika, dan kimia. Di samping itu, para santri pun diajarkkan komputer. Agar tidak ketinggalan informasi, santri juga berlangganan surat kabar. Di banding sekolah umum, menurut Kiyai Syukron pesantren memiliki kelebihan pada soal akhlak dan disiplin berpakaian. ”Satu-satunya pendidikan yang tidak dipengaruhi budaya barat, adalah pesantren,” katanya. Meski mengajarkan pelajaran umum, tapi tujuan pesantren untuk mencetak ahli agama tidak dapat dilupakan. Sebab, jika terlalu menitikberatkan ke pelajaran umum, pesantren tidak dapat menghasilkan Kiai. Melainkan menghasilkan orang yang setengah-setengah. Seiring perkembangan zaman Pesantren Darul Rahman membuka dua cabang yaitu di Kampus Daarul Rahman II seluas 8,5 hektar di Kampung Jambu Desa Sibanteng Leuwiliang Bogor. Kampus Daarul Rahman III di Depok dengan sistem pendidikan SMP dan SMA plus. Santri pesantren Daarul Rahman tidak terbatas dari Jakarta, mereka juga berasal dari seluruh penjuru tanah air, dari Sabang sampai Merauke, bahkan ada yang dari negeri Jiran, Malaysia. Kini tak kurang dari 1485 santri tengah belajar di Pesantren Daarul Rahman di pusat dan dua cabang. Dalam usia ke 34 tahun, Ponpes Darul Rahman telah menghasilkan ribuan alumni. Kini di antara mereka telah berhasil dan membuka pesantren. Di antaranya Pesantren Qotrun Nada pimpinan KH. Drs. Burhanuddin Marzuki dan Pesantren Daarul Mughni Al-Maliki pimpinan KH. Mustofa Mughni. Berdiri di tengah kota Jakarta, tak membuat Pesantren Daarul Rahman menjadi ekslusif. Para santri dan pimpinan pondok juga terlibat dan bergaul dengan masyarakat sekitar Senopati. Mereka biasa bekerja sama menyelenggarakan peringatan hari besar Islam dan kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya. Hal ini tidak terlepas dari sosok KH. Syukron Makmun, yang selain pimpinan pesantren, sejak lama ia juga telah menjadi tokoh masyarakat from: http://hanifmagz.wordpress.com/2010/08/02/ponpes-daarul-rahman-oase-spiritual-di-jantung-jakarta/ Marzuki Ajak Santri Anti Narkoba Jakarta - Panasnya sidang paripurna DPR RI yang diwarnai walk out sejumlah anggota dewan tak menyurutkan langkah Ketua DPR RI Marzuki Alie untuk hadir ke acara Deklarasi Perang Melawan Korupsi dan Narkoba di Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jalan Senopati Dalam II No. 35, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di pondok pesantren pimpinan K.H. Syukron Ma’mun itu, Marzuki berpesan kepada para santri agar tidak berpraktik korupsi dan tidak menggunakan narkoba. ”Deklarasi adalah pernyataan sikap. Artinya, pelajar di sini sudah memiliki kesadaran dan sikap yang baik atas bahaya korupsi dan penyalahgunaan narkoba yang memang menjadi ancaman bagi masa depan bangsa,” ujar Marzuki. Di acara itu, Marzuki tak lupa menegaskan akan arti pentingnya pendidikan. ”Baru kemarin, Minggu (2/5, Red) kita merayakan hari pendidikan nasional. Dan saya menyampaikan pesan Pak SBY bahwa dunia pendidikan memegang peranan penting bagi masa depan bangsa. Untuk itu, dengan deklarasi ini berarti kita telah melakukan hal positif yakni saling menasehati dalam kebenaran agar tidak terjadi korupsi. Jangan lupa sampaikan juga pesan anti korupsi dan anti narkoba ini kepada keluarga dan teman-teman kita,” papar Marzuki. Tak hanya itu, Marzuki juga berpesan kepada para generasi muda agar menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Sehingga bisa terus melakukan perbaikan kualitas diri. ”Semoga apa yang dilakukan pelajar di sini, bisa dicontoh oleh pelajar lain di seluruh Indonesia. Tapi yang perlu diingat, jangan sekadar diucapkan tapi sungguh-sungguh ditanamkan dalam jiwa masing-masing bahwa korupsi dan narkoba merupakan musuh utama kita,” kata Marzuki. Deklarasi Perang Melawan Korupsi dan Narkoba yang digelar Pelajar Pesantren Daarul Rahman itu dibacakan oleh puluhan santri. Pada saat membacakan deklarasi itu, seorang santri salah sebut dengan mengatakan Kiai Haji Marzuki Alie. Dan, kesalahan itu diluruskan oleh pembawa acara. ”Semoga salah sebut kiai itu menjadi doa untuk Pak Marzuki. Meski tidak formal, tapi secara substansi Pak Marzuki adalah kiai yang melawan korupsi dan penyalahgunaan narkoba,” ujar pembawa acara. (Sumber: JPNN.com, dil) http://www.dpp.pkb.or.id/?option=com_content&view=article&id=592:marzuki-ajak-santri-anti-narkoba&catid=47:berita-parlemen&Itemid=117&fontstyle=f-larger sumber :http://dpryes.blogspot.com

0 komentar:

Poskan Komentar